Napak Tilas: Menyusuri Jejak Keluarga dan Kenangan Masa Silam
Napak Tilas: Mencari Jejak Orang Tua di Tasikmalaya
Catatan perjalanan untuk keluarga, anak, cucu, dan sahabat
1. Akar Keluarga di Bandung
Ema dan Bapa
Kedua orang tua saya beserta keluarga besar dari pihak kakek dan nenek merupakan penduduk asli Kota Bandung, tepatnya dari lingkungan Kecamatan Coblong.
Saya adalah anak keempat dari delapan bersaudara, terdiri atas enam laki-laki dan dua perempuan. Saya lahir pada dekade 1950-an. Ayah saya merupakan pensiunan pegawai sipil yang bekerja di lingkungan ITB, yang dahulu dikenal sebagai TH (Technische Hoogeschool). Beliau pensiun pada 1965, setelah mengabdi selama kurang lebih 30 tahun.
Karena itu, sejak masih balita saya sudah mengenal denyut kehidupan kampus ITB, bukan sebagai mahasiswa, melainkan sebagai bagian dari keluarga yang kehidupannya dekat dengan lingkungan kampus tersebut.
Ada tiga kawasan yang sangat akrab dalam kehidupan keluarga kami, yaitu Cisitu, Cigadung di lingkungan Coblong, dan Balubur. Ketiganya menyimpan kenangan tersendiri dalam perjalanan keluarga kami.
Cigadung, kawasan yang tidak jauh dari lapangan golf Dago Atas, dahulu merupakan tempat tinggal kakek saya. Keluarga memiliki sebidang tanah yang cukup luas di sana. Namun, seiring perjalanan waktu dan pembagian warisan, tanah itu semakin menyempit. Pada akhirnya, tempat tinggal dan tanah keluarga tersebut hanya tinggal kenangan.
2. Perjalanan Panjang Menuju ITB
Industrial Desain Studio ITB
Pada akhir 1973, saya lulus dari SMAN 1 Dago. Saya sempat mengikuti tes masuk ITB, tetapi belum berhasil lolos seleksi.
Padahal, seandainya saat itu diterima, ada beberapa keuntungan yang bisa saya rasakan. Ayah sudah lama mengabdi di lingkungan Departemen Sipil ITB. Rumah keluarga kami pun hanya sekitar lima menit berjalan kaki dari kampus. Saya tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk tempat tinggal dan kebutuhan hidup sehari-hari selama kuliah.
Sebagai penduduk asli Bandung, saya memiliki keinginan tersendiri untuk merasakan pendidikan di ITB. Pada masa itu, menurut pengamatan saya, banyak mahasiswa ITB berasal dari luar Bandung. Sementara itu, tidak semua anak dari keluarga penduduk asli di lingkungan kami memiliki kesempatan untuk berkuliah di sana. Persoalan biaya menjadi salah satu kendala yang cukup membebani.
Akhirnya, jalan hidup membawa saya menempuh perjalanan yang berbeda. Setelah bekerja selama kurang lebih tiga tahun sebagai surveyor atau juru ukur tanah, dengan bekal kursus atau pelatihan geodesi di sebuah perusahaan swasta di Bandung, saya berhasil masuk ITB pada 1977, di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD).
Dari delapan bersaudara, alhamdulillah, hanya saya dan adik laki-laki bungsu yang akhirnya berhasil menjadi mahasiswa ITB. Adik saya, Agus Hamdan, terpaut usia sekitar 15 tahun dari saya. Ia kemudian mengikuti jejak saya, berhasil masuk jurusan Mesin, dan membangun kehidupannya sendiri.
3. Rumah Orang Tua di Sela Awi
Bersama Popong (adik tiri ) dengan latarbelakang rumah peninggalan bapa
Sekitar 1977, Ayah membeli dua bidang tanah di wilayah Ciawi dan Dusun Sela Awi, Kabupaten Tasikmalaya. Satu bidang terletak di tepi jalan utama Bandung–Tasikmalaya, sedangkan satu lagi berada di atas bukit di Sela Awi.
Ayah dan Ibu kemudian mendirikan rumah di tepi jalan utama tersebut. Mereka menjalani kehidupan yang nyaman di lingkungan baru, dengan bagian depan rumah menghadap jalan raya dan bagian belakang serta samping berbatasan dengan area persawahan.
Ketika masih kuliah, saya beberapa kali mengunjungi mereka di rumah itu.
Pada 1980, Ibu mengalami sakit yang menurut ingatan saya tidak terlalu berat. Sayangnya, penyakit itu tidak tertangani lebih cepat hingga akhirnya beliau meninggal dunia pada 25 Mei 1980. Ibu lahir pada 26 Mei 1924, sehingga beliau wafat hanya sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-56.
Ada satu penyesalan yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika Ibu meninggal dan dimakamkan, saya tidak ikut menghadiri pemakamannya. Sampai hari ini, saya bahkan tidak lagi ingat persoalan apa yang sedang saya hadapi ketika itu hingga tidak dapat hadir mengantar beliau ke peristirahatan terakhir.
Penyesalan itu menjadi bagian dari kenangan hidup yang tidak mudah saya lupakan.
Adik bungsu saya, Agus Hamdan, saat itu tinggal bersama Ayah dan Ibu di rumah tersebut. Ia bersekolah di SD Sela Awi, Tasikmalaya. Dalam perjalanan hidupnya, ia kemudian berhasil menyelesaikan pendidikan di ITB dan membangun kehidupan yang sejahtera di Kota Medan, Sumatera Utara, setelah menekuni bidang perkebunan kelapa sawit.
Setahun setelah Ibu meninggal, Ayah menikah lagi dengan seorang perempuan yang seusia dengan Ibu. Istri kedua Ayah itu bernama Fatimah. Saya tidak terlalu mengenalnya, tetapi menurut cerita, orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya biasa memanggil beliau Bu Anah.
Di rumah itu, saya juga pernah meninggalkan dua buah lukisan berukuran cukup besar, dibuat di atas kanvas berkualitas baik dengan cat minyak profesional. Sejak SMA, saya memang sudah menekuni hobi melukis dan bergaul dengan para pelukis profesional.
Kedua lukisan tersebut merupakan salah satu jejak pribadi yang pernah saya tinggalkan di rumah orang tua.
Setelah Ayah juga meninggal dunia, kami delapan bersaudara melanjutkan kehidupan masing-masing, berjuang untuk bertahan dan membangun kehidupan kami sendiri.
4. Kembali Setelah 46 Tahun
Setelah sekian lama, tepatnya pada Selasa, 30 Juni 2026, saya melakukan perjalanan napak tilas bersama istri dan seorang kawan yang lebih muda. Tujuan utama perjalanan itu adalah mencari kembali rumah peninggalan orang tua dan menziarahi makam Ibu.
Saya sendiri sudah menikmati kurang lebih 40 tahun perjalanan hidup dan kesejahteraan di Jakarta sejak mulai meniti karier pada 1987. Namun, di balik perjalanan panjang tersebut, selalu ada kerinduan untuk menengok kembali masa silam.
Empat puluh enam tahun bukanlah waktu yang pendek. Wilayah yang dahulu saya kenal tentu sudah banyak berubah. Saya hanya dapat mengira-ngira lokasi rumah lama berdasarkan ingatan yang tersisa.
Satu hal yang masih saya ingat ialah bahwa rumah tersebut berada tidak begitu jauh dari Rest Area Gentong, Kabupaten Tasikmalaya.
Berbekal ingatan itu, kami bertanya kepada penduduk setempat yang sudah lama tinggal di sana. Alhamdulillah, akhirnya rumah bekas tempat tinggal orang tua saya berhasil ditemukan.
Rumah tersebut kini ditempati keluarga ibu tiri saya. Dalam perjalanan itu, kami bertemu dengan Ceu Popong dan adiknya, Kang Sirod.
Tentu saja bangunannya sudah jauh berbeda dibandingkan ketika dahulu dihuni Ayah dan Ibu. Waktu telah mengubah banyak hal, begitu pula perkembangan lingkungan sekitarnya. Menurut cerita yang saya dengar, hak kepemilikan rumah tersebut juga sudah mengalami proses jual beli.
Saya hanya dapat memandangnya sebagai rumah yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan keluarga kami. Walaupun bangunannya tidak lagi sama, ingatan tentang Ayah, Ibu, dan masa-masa ketika saya masih muda tetap melekat.
5. Ziarah ke Makam alm Ibu Maemunah
Makam alm Ema Maemunah di Pemakaman Umum Jengkol-Buniasih-Tasikmalaya
Setelah menemukan kembali rumah tersebut, perjalanan kami lanjutkan ke Pemakaman Jengkol, tempat Ibu dimakamkan.
Alhamdulillah, keadaan makam ternyata cukup terawat dengan baik. Tulisan pada penanda makam pun masih cukup jelas. Di sana tercantum nama:
CUCU SITI MAEMUNAH binti SARBINI
dan keterangan lain mengenai almarhumah.
Melihat makam Ibu setelah puluhan tahun berlalu menimbulkan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ada haru, rindu, dan emosi yang bercampur menjadi satu.
Bersama istri dan Popong, saya bermunajat dan memanjatkan doa untuk kebaikan almarhumah Ibu di keabadian.
Saat itu saya merasa sedang berhadapan dengan bagian kehidupan yang selama ini hanya tersimpan dalam ingatan. Waktu telah berlalu begitu jauh, tetapi hubungan batin dengan seorang ibu tidak serta-merta hilang ditelan usia.
Saya juga teringat bahwa dahulu saya tidak sempat mengantar Ibu ke pemakaman. Kini, setelah 46 tahun, saya akhirnya dapat datang, berdoa, dan menziarahi makam beliau secara langsung.
Bagi saya, perjalanan ini bukan sekadar menemukan lokasi makam yang telah lama tidak dikunjungi. Ada bagian dari kerinduan dan penyesalan masa lalu yang kembali hadir, menyertai doa untuk Ibu.
6. Menyusuri Kembali Desa Selaawi
Keluarga Ceu Apong dan Kang Olih yang tinggal di desa Sela Awi -Tasikmalaya
Setelah selesai berziarah, perjalanan kami lanjutkan dengan mobil menuju Desa Selaawi yang terletak di atas bukit, tidak jauh dari daerah Antralina. Jaraknya kurang lebih lima kilometer dari jalan raya utama.
Di sana kami bermaksud menemui keluarga dari pihak Wak, kakak Ayah saya.
Menurut informasi yang kami peroleh, keluarga tersebut masih tinggal di sana. Mereka menjalani kehidupan sederhana, tetapi tetap sehat walafiat hingga usia lanjut.
Alhamdulillah, setibanya di sana kami benar-benar dapat bertemu dengan Kang Olih dan Ceu Apong, yang rata-rata sudah berusia sekitar 80 tahun.
Mereka masih mengurus tanah peninggalan orang tua, tanah yang oleh keluarga kami sendiri sudah lama tidak lagi menjadi perhatian. Bahkan, bisa dikatakan kami sudah tidak ingin terlalu memikirkan persoalan kepemilikannya.
Pertemuan itu menjadi kesempatan untuk bercengkerama dan melepas kerinduan. Percakapan kami membawa ingatan kembali ke masa sekitar 60 tahun sebelumnya, ketika saya masih berusia anak sekolah dasar pada dekade 1960-an.
Saya pernah menginap di desa terpencil di atas bukit itu. Pada masa kecil, suasananya tentu berbeda dengan kehidupan yang kemudian saya jalani di kota besar. Kini, setelah enam dekade berlalu, saya kembali mengunjungi tempat yang menyimpan potongan kenangan masa kanak-kanak tersebut.
Berada kembali di sana, bertemu dengan kerabat yang telah lanjut usia, dan berbicara tentang masa lalu membuat saya merasakan betapa panjang perjalanan hidup yang telah kami lalui.
Ada banyak hal yang berubah. Usia bertambah, orang-orang menjalani kehidupan masing-masing, dan zaman bergerak terus. Namun, sebagian kenangan ternyata tetap bertahan.
7. Oleh-Oleh yang Membawa Ingatan Masa Kecil
Setelah cukup lama bercengkerama dan melepas kerinduan, saya mendapat cendera mata atau oleh-oleh dari keluarga di Selaawi.
Yang membuat saya terharu, oleh-oleh itu sama seperti yang pernah saya terima sekitar 60 tahun lalu: gula aren hasil olahan sendiri dan lahang, yaitu air atau nira yang disadap dari pohon aren dan menjadi bahan utama untuk membuat gula aren.
Bagi orang lain, mungkin gula aren dan lahang hanyalah hasil alam yang sederhana. Namun, bagi saya, keduanya memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Oleh-oleh itu seolah menghubungkan saya dengan masa kecil yang sudah lama berlalu. Enam puluh tahun silam, ketika saya masih anak-anak dan menginap di desa di atas bukit tersebut, hal-hal seperti itulah yang akrab dengan kehidupan masyarakat setempat.
Kini saya kembali dalam usia yang jauh berbeda, setelah menempuh perjalanan hidup panjang dan tinggal puluhan tahun di Jakarta. Namun, di tengah perubahan zaman, ada sesuatu yang masih terasa sama: keramahan keluarga dan kenangan yang melekat pada hasil bumi mereka.
Perjalanan ini pun mengingatkan saya bahwa tidak semua hal berharga harus berbentuk benda mahal atau sesuatu yang luar biasa. Kadang-kadang, justru sesuatu yang sederhana dapat membawa kita kembali kepada masa lalu yang paling berkesan.
8. Perjalanan yang Belum Selesai
Napak tilas pada 30 Juni 2026 ini menjadi perjalanan untuk mendekati kembali beberapa bagian kehidupan yang telah lama tertinggal.
Saya kembali melihat rumah tempat orang tua pernah tinggal, menziarahi makam Ibu yang wafat pada 25 Mei 1980, serta menemui keluarga di Selaawi yang menyimpan kenangan masa kecil saya.
Semua itu membuat saya menyadari bahwa perjalanan hidup bukan hanya tentang tempat-tempat baru yang kita datangi atau keberhasilan yang kita capai. Ada pula tempat lama yang perlu kita kunjungi kembali, orang-orang yang perlu kita temui, dan kenangan yang patut kita rawat.
Catatan ini saya tulis terutama untuk keluarga, anak, cucu, dan teman-teman. Saya ingin mereka mengenal sebagian perjalanan hidup saya, termasuk tempat-tempat yang pernah membentuk ingatan dan perasaan saya.
Kisah tentang Ayah sendiri akan saya tulis secara khusus pada kesempatan lain.
Perjalanan napak tilas ini masih menyisakan banyak cerita. Untuk sementara, sampai di sini dahulu catatan saya tentang upaya menyusuri kembali jejak keluarga di Bandung dan Tasikmalaya.
Ziarah dan Do"a untuk almarhum Ema Maemunah :
.jpeg)








Komentar
Posting Komentar